Jalur pipa gas Nord Stream 1 yang saat ini menjadi satu-satunya jalur yang tersisa untuk pengiriman gas ke Eropa Barat, sejak pekan lalu dihentikan operasinya karana alasan perbaikan dan perawatan.
Jalur pipa gas ini setiap hari mengirimkan puluhan miliar meter kubik gas alam Rusia ke Jerman.
Sementara itu, tensi antara negara-negara Eropa dan Rusia akibat perang Ukraina, membuat gas menjadi pusat konflik kedua pihak dan Eropa menuding Moskow memanfaatkan gas sebagai senjata.
Menurut laporan Reuters Sabtu (3/9/2022) ketika Uni Eropa baru-baru ini secara sepihak memutus kontrak dengan Rusia, Komisioner Uni Eropa untuk Ekonomi Paolo Gentiloni hari Sabtu di forum ekonomi yang diselenggarakan oleh The European House – Ambrosetti di utara Italia, berharap Moskow menghormati kontrak energi yang telah disepakati.
Seraya menyinggung pada penyimpanan gas yang cukup besar dan rencana untuk menghemat energi di musim dingin yang akan datang, Gentiloni menambahkan, "Bahkan jika penggunaan energi sebagai senjata berlanjut atau meningkat, Uni Eropa siap untuk bereaksi."
Gazprom hari Jumat (2/9/2022) menyatakam bahwa selama proses perbaikan dan perawatan diketahui terjadi kebocoran dan proses pengiriman gas tidak bisa dimulai.
Sampai saat ini belum ada kejelasan kapan perbaikan tersebut akan selesai.
Meski demikian perusahaan Siemens Energy Sector yang biasanya memberikan jasa servis turbin Nord Stream 1 menyatakan, kebocoran seperti ini tidak harus mencegah aktivitas pipa gas.
Brussels yang memperingatkan kepatuhan Moskow terhadap kontraknya, pekan lalu di pertemuan tingkat menlu sepakat menangguhkan kontrak pemberian visa perjalanan dengan Moskow untuk mengurangi masuknya warga negara Rusia ke Uni untuk tujuan liburan atau belanja.
27 menlu Uni Eropa di pertemuannya di Prague berjanji menangguhkan kesepakatan kemudahan visa perjalanan dengan Rusia.
Kesepakatan kemudahan visa perjalanan dengan Rusia di tahun 2007 mempermudah perolehan dokumen perjalanan relatif mudah. (MF)
342/